Kemendag memastikan tidak ada lagi peredaran baju bekas ilegal yang masuk ke Indonesia.
Bagikan Facebook Twitter WhatsApp Linkedin Telegram Tautan Tersalin A- A+ Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perdagangan memastikan tidak ada lagi baju bekas ilegal usai yang masuk Indonesia usai pedagang mengeluh pasokan produk selundupan tersebut yang makin seret.
Kemendag, lanjutnya, akan terus berfokus pada penanganan peredaran pakaian bekas tersebut di hulunya dan berurusan langsung dengan pelaku penyelundupan. Dalam aturan tersebut disebutkan setiap importir wajib mengimpor Barang dalam keadaan baru. Pada pasal 52, disebutkan importir yang mengimpor barang tidak sesuai ketentuan pembatasan barang diimpor akan dikenai sanksi administratif/sanksi lainnya.
Philippines Latest News, Philippines Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Pasokan Baju Bekas Impor Mulai Seret, Mendag: Tak Akan Ada Lagi!Kemendag memastikan tidak ada lagi pasokan baju bekas impor yang masuk ke Indonesia.
Read more »
Mendag Bakal Musnahkan 7.000 Bal Baju Bekas Impor Senilai Rp80 MiliarKemendag dan Polri akan memusnahkan sebanyak 7.000 bal baju bekas impor dengan nilai sekitar Rp80 miliar.
Read more »
Kemenparekraf: |em|Fashion|/em| Muslim Indonesia Bisa Lebih Bersaing |Republika OnlineKemendag catat ekspor produk baju gaun Muslim 2022 capai 15 miliar dolar AS.
Read more »
Kasus Impor Baju Bekas, Polri Awasi Pintu-Pintu MasukPolri mengoptimalisasi pengawasan di pintu-pintu masuk Indonesia untuk mengendalikan impor baju bekas atau thrifting.
Read more »
Jaga Pasokan Listrik, PLN Indonesia Power Siapkan Solusi Atasi Masalah DAS Serayu |Republika OnlineKeandalan PLTA tidak lepas dari kondisi waduk yang menjadi media penampung energi.
Read more »
Jaga Pasokan Listrik, PLN Indonesia Power Rehabilitasi DAS Serayu dan Optimalisasi WadukPLN Indonesia Power melalui salah satu Unitnya Mrica PGU merehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu dan mengoptimalisasi Waduk Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Read more »