Hasil Pertemuan Presiden Jokowi dan Bos Besar Otomotif di China, Siap 'Nyetrum' Indonesia Ramadan
baru-baru ini bertemu dengan para bos besar, atau Chief Executive Officer beberapa perusahaan di China salah satunya otomotif, saat kunjugan ke Chengdu pada 27-28 Juli 2023.
“Prioritas yang ingin kami kerjakan untuk investasi saat ini yang pertama di ekosistem kendaraan listrik, ekosistem EV yang ingin kita bangun,” ujar Jokowi dikutip, Senin 31 Juli 2023.
Philippines Latest News, Philippines Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Kritisi Pertemuan Bilateral Jokowi - Xi Jinping, Ekonom: Perlu Dipastikan Keuntungan yang Jelas untuk IndonesiaPengamat menyatakan dari pertemuan bilateral Presiden Jokowi dan Presiden XI Jinping, hubungan Indonesia-China perlu dicermati.
Read more »
Jokowi Diminta Kembali Kaji Isi Perpres Publisher Rights, Belum Seluruh Poin Disepakati - Tribunnews.comPresiden Joko Widodo (Jokowi) diminta mengkaji kembali naskah Rancangan Peraturan Presiden tentang Publisher Rights
Read more »
Otorita IKN Ajak Shenzen Bangun Kota Masa Depan di RIPresiden Jokowi sebelumnya juga sudah bertemu dengan Presiden Xi Jinping untuk membahas kerja sama kedua negara.
Read more »
Jokowi Temui Xi Jinping, Jajaki Kerja Sama dengan Shenzhen China untuk Pembangunan IKNJokowi Temui Xi Jinping, Jajaki Kerja Sama dengan Shenzhen China untuk Pembangunan IKN TempoBisnis
Read more »
Kesepakatan Jokowi-Xi Jinping Diam-Diam Berisiko ke Ekonomi Indonesia, Benarkah?Sepuluh tahun kemitraan strategis komprehensif Indonesia-China dirayakan dengan pertemuan bilateral Presiden Jokowi dan Presiden Xi Jinping di Chengdu, China pada 27-28 Juli 2023 kemarin.
Read more »
Polri: Penembakan Bripda Ignatius karena 'kelalaian', pengamat desak Presiden Jokowi bentuk tim independen - BBC News IndonesiaPolri menyebut insiden tewasnya anggota Densus 88 Antiteror, Bripka Ignatius Dwi Frisco Sirage, akibat kelalaian seniornya, Bripda IM. Penjelasan polisi 'tidak masuk akal dan sulit dipercaya', kata pakar hukum Universitas Islam Indonesia, Eko Riyadi.
Read more »